Kamis, 14 Juni 2012

makalah kapita selekta


KATA PENGANTAR

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# .  

Pertama-tama kami ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Karena hanya dengan bimbingan dan petunjuknya penulisan makalah ini yang berjudul “ Pendidikan  Islam dan Globalisasi” dapat terselesaikan walaupun dengan berbagai kekurangan.
Penulisan makalah ini selain sebagai tugas wajib Mahasiswa, juga sebagai bahan diskusi dalam menghasilkan kesamaan pemahaman pada mata kuliah kapita selekta.
Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran guna memperbaiki penyusunan makalah selanjutnya. Sekecil apapun arti tulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, karna hanya milik Allah kebenaran yang mutlak dan Hakiki. semoga Allah senantiasa memberikan Rahmatnya kepada kita semua. Amiin….





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................
KATA PENGANTAR..................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................
Latar Belakang Masalah......................................................................................
Rumusan Masalah................................................................................................
Tujuan Pendidikan...............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN  .............................................................................................  
Pendidikan Agama Islam.....................................................................................
·         Gambaran umum Pendidikan  Islam..............................................................  
Globalisasi............................................................................................................
·          Globalisasi ....................................................................................................   
BAB III PENUTUP.......................................................................................................
                                      A.        Kesimpulan.......................................................................................................
                                       B.        Saran.................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara tentang Pendidikan  Islam dan Globalisasi dimana pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan Akhlak dan Manusia, lebih-lebih pada zaman sekarang ini. Di mana Tujuan pendidikan Islam adalah: pendidikan akhlak. akhlak yang kami maksud disini yaitu: seperti  yang dirumuskan oleh Ibnu Maskawaih adalah: terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik. Tujuan pendidikan islam yang ingin dicapai Ibnu Maskawaih bersifat menyeluruh, yakni mencakup kebahagiaan hidup Manusia dalam arti yang seluas-luasnya.
Sedangkan Hubungan Manusia dengan pendidikan islam adalah: bila dimensi ini di kembangkan dengan kajian pendidikan, maka dalam proses mempersiapkan generasi penerus estapet kehalifahan yang Sesuai dengan Nilai-nilai Ilahiyah, maka pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi peserta didiknya dengan acuan Nilai-nilai Ilahiyah. Dengan penamaan ini, akan menjadikan panduan baginya dalam melaksankan amanat Allah di muka bumi. Kekosongan akan Nilai-nilai Ilahiyah, akan mengakibatkan Manusia akan bebas kendali dan berbuat seenaknya. Sikap yang demkian akan berimplikasi timbulnya Nilai Egoistic yang bermuara kepada sikap angkuh dan sombong pada diri Manusia.
Berdasarkan nilai di atas Jelaslah bahwa untuk merealisasikan tugas dan kedudukan Manusia tersebut dapat di tempuh Manusia lewat pendidikan. dengan media ini diharapkan Manusia mampu mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah SWT secara optimal, untuk merealisasikan kedudukan, tugas, dan pungsinya.
Pemikiran Ibnu Maskawaih masih sejalan dengan tujuan pendidikan Islam zaman sekarang. Bahkan mengenai pendidikan Akhlak sangat di tekankan dalam Islam sampai kapanpun karena Rasululllah SAW sendiri di turunkan di bumi juga dalam rangka memperbaiki Akhlak.
Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Al- Bazzaar, artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia”.
Berkaitan sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik dalam zaman ini disebut dengan pendidikan karakter (character) dimana karakter diartikan sifat yang sudah mendarah daging. Dan dalam pengetahuan Afektif (sikap) adalah berada dalam tingkatan tertinggi (puncak). Sehingga pemikiran Ibnu Maskawaih ini juga masih relevan dengan perkembangan zaman.
Mengenai pendidikan Islam yang mencakup kebahagiaan hidup manusia dalam arti yang seluas-luasnya adalah benar, akan tetapi masih belum lengkap karena masih meninggalkan faktor keselamatan. Mengapa perlu ada keselamatan disamping kebahagiaan ? Karena kita mengetahui banyak orang yang bisa merasakan bahagia, bahkan bahagia yang seluas-luasnya. Namun ada kalanya kebahagiaan tersebut belum tentu membawa keselamatan di Akherat.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di rumuskan permasalahanya yaitu: apakah pendidikan islam mampu menghadapi tantangan globalisasi

C.    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan  Islam dan globalisasi ini adalah: supaya dapat mengimbangi pendidikan Islam itu sendiri dan globalisasi, dan berjalan sesuai dengan koridor masing-masing agar tidak terjadi tumpang tindih satu dengan yang lainya.

BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN  ISLAM DAN GLOBALISASI
A.    Pendidikan  Islam
Pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan akhlak dan manusia, lebih-lebih pada zaman sekarang ini. Di mana Tujuan pendidikan akhlak yang kami maksud disini yaitu seperti  yang dirumuskan oleh Ibnu Maskawaih adalah: terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Maskawaih bersifat menyeluruh, yakni mencakup kebahagiaan hidup manusia dalam arti yang seluas-luasnya.
Pendidikan Islam sering diartikan dan di terapkan secara sempit, yakni sekedar upaya yang dilakukan secara sistematis dalam proses kegiatan mengajar belajar agama, yang dijadikan sebagai pedoman hidup beragama dengan lebih mengutamakan kuantitas dan kualitas vertikal, dan tidak di imbangi dengan kualitas kehidupan antar Manusia.
Murtadha Mutahhari melukiskan gambaran Al-qur’an tentang Manusia sebagai berikut;
 Al-qur’an menggambarkan Manusia sebagai mahluk pilihan sebagai khalifahnya dibumi,yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui tuhan bebas terpercaya dan rasa bertanggung jawab pada dirinya maupun alam semesta, serta dikarunia keunggulan untuk menguasai alam semesta, langit dan bumi.  Manusia dipusakai kearah kecendrungan yaitu: kebaikan dan kejahatan. Kemajuan mereka dimulai dengan kelemahan dan ketidak kemampuan yang kemudian bergerak kearah kekuatan, tetapi itu tidak meghapuskan kegelisahan mereka, kecuali kalau mereka dekat dengan Tuhan dan mengingat-Nya. Kapasitas mereka tidak terbatas, baik dalam kemampuan belajar maupun dalam menerapkan ilmu, mereka memiliki keluhuran dan martabat Naluriyah.[1] Akhirnya mereka dapat secara leluasa memampaatkan nikmat dan karunia yang di limpahkan Allah kepada mereka namun pada saat yang sama, mereka menunaikan kewajiban mereka kapada tuhan. Tetapi dengan kedudukan yang demikian, manusia sering melupakan hakekat dirinya sebagai hamba Allah. Manusia sering bertindak sewenang-wenang, tidak mematuhi aturan yang mengikat dirinya, dan merasa congkak dan takabbur kepada allah SWT.  Dalam rangka menyadarkan Manusia akan kedudukan sebagai hamba Allah, dalam Al-Qur’an terdapat pernyataan agar Manusia mau berpikir tentang asal kejadianya.
Pendidikan Islam adalah: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, keperibadian dan Akhlak mulia.[2]
Dalam pandangan yang lebih luas, Abdul Rahman Saleh mendefinisikan bahwa pendidikan Islam diartikan: sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam upaya menyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan Agama Islam melalui kegitan bimbingan.[3]

B.     Globalisasi
Globalisasi pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah.[4] Dengan perkembangan tersebut, kini dunia seolah tidak lagi memiliki batas-batas wilayah-ruang dan waktu. Dari belahan dunia manapun, orang bisa saling menghubungi dengan mudah jika memiliki akses untuk itu, seperti telepon, parabola, kaset, CD-ROOM, VCD-DVD, fasilitas internet dan lain sebagainya. Setiap orang bisa menyaksikan siaran langsung tanpa perbedaan waktu tentang apapun dari belahan dunia manapun jika ia memiliki TV dengan parabola yang diperlukan.
Yang perlu di sadari, bareng dengan itu era globalisasi ini membawa dan menghasilkan pertemuan dan pergesekan antar nilai budaya, nilai adat istiadat dan nilai Agama dari seluruh dunia tanpa bisa dibatasi. Pertemuan dan pergesekan tersebut, kita setuju ataupun tidak, akan mendorong munculnya kompetisi dan persaingan liar, ini berarti saling pengaruhi dan mempengaruhi, saling bertentangan dan bertabrakan antar nilai yang berbeda yang menghasilkan: ada yang kalah atau ada yang menag, atau bisa bekerja sama untuk saling memanfaatkan. Singkatnya, era globalisasi dengan segala kecanggihan perangkat tekhnologi dengan imformasinya bisa bermata banyak, paling tidak sebagai ancaman dan tantangan. Sebagai ancaman, perangkat dan pasilitas globalisasi dapat ditunggangi oleh berbagai pengaruh negative yang akan menjadikan masyarakat kita menjadi terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan terutama kehidupan moralnya, jika kita tidak pandai dan hati-hati di dalam mengantisifasinya.
Nabi Saw. sejak awal kita percayai dan dikenal sebagai pendidik, landasan dan bahan ajar utamanya tentu saja Al-qur’an. Yang merupakan petunjuk kedalam jalan yang lurus dan kebenaran itu sendiri.
¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 šÏf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x. ÇÒÈ  
 “ sesungguhnya al-qur’an ini menuntun kepada (jalan) yang lebih lurus, dan mengabarkan bagi kaum mukminin yang beramal saleh, bahwa bagi mereka ada ganjaran yang besar.[5]
Dalam tradisi keilmuan islam, kenyataan historis menunjukan bahwa Nabi Saw. merupakan guru tertinggi, yang hingga hari ini masih tetap di pandang sebagai guru paling penting oleh kaum muslimin. Tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa hampir keseluruhan aspek kehidupan Nabi Saw dapat dipandang sebagai bermuatan nilai pendidikan. Dan ini sudah banyak di ungkap oleh para ahli sekedar sebagai penyegar ingatan, di sini hanya hendak di ungkap ulang aspek membaca dengan cerdas.
Paradigma baru pendidikan di era globalisasi ini  ilmu itu dicari. Yang diperintahkan oleh Nabi Saw. itu adalah menuntut, mencari, bukan menerima ilmu. Dalam perspektif ini, dan karenanya dalam perspektif global sekarang ini, tanggung jawab dosen/guru adalah memotivasi, memfasilitasi dan menemani murid mencari dan menemukan ilmu. Murid sendiri yang menemukan ilmu. Kecuali itu, paradigma baru dalam menyikapi ilmu, ilmu tidak dalam posisi dimilki, tetapi dalam proses menjadi, dimana pencari ilmu itu terus menerus dalam proses menjadikan dirinya menjadi ilmuwan yang tidak kunjung berhenti (never ending). Dalam era globalisassi, “sekolah boleh selesai, tapi belajar tidak boleh/pernah selesai”. Masih dalam paradigma baru bobot ilmu tidak terletak pada hasil akhir atau final product tapi pada proses metodologi atau cara mencarinya. Dengan kata lain, inti pembelajaran baru adalah meneliti atau research, bukan lagi menerima barang jadi. Hal ini sangat klop dengan doktrin pertama yang kita terima dan kita yakini hingga hari ini,[6]
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,( 2). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, perbaikan pendidikan untuk menuju pendidikan bermutu dalam perspektif kepentingan global harus dilakukan secara integral dan terpadu menyangkut semua aspek, karena memang saling terkait dan pasti saling mendukung.
Dalam konteks kontemporer, budaya teks yang menjadi basis keilmuan pesantren kini menghadapi era globalisasi yang banyak bertumpu pada teknologi komunikasi dan informasi. Masyarakat dunia secara umum kini sudah memasuki apa yang disebut.  Everett M. Rogers sebagai “information Society”.[7]  Dalam perspektif komunikasi, disiplin keilmuan di ibaratkan sebagai pesan (mesage) yang menjadi tujuan kontak antar individu. “pesan” ini di demiasi oleh “kanal” (channel) atau media yang mengantarinya, dalam pemetaan sederhana semacam ini, budaya keilmuan yang di miliki dunia pesantren, sebagai mana jenis- jenis ilmu lainya, tengah dihadapkan pada “media” baru berupa perangkat tekhnologi komunikasi yang tingkat perkembanganya sangat cepat.
Abdurrahman Wahid pernah menyebut pesantren sebuah subkultur yang memiliki keunikan dan perbedaan cara hidup dari umumnya masyarakat Indonesia.[8] Meskipun Abdurrahman Wahid memosisikan pembahasan subkultural pesantren dalam konteks pembangunan Nasional, pada dasarnya pesantren mengemban misi dakwah. Pada titik inilah, dengan semboyan “Islam Rohmatan Lil alamin”  pesantren meski memiliki keberanian untuk menghadapi dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Pesantren sebagai sebuah subkultur justru berada pada posisi yang terbuka terhadap perubahan.
Di sini perlu dikemukakan kembali bahwa pesantren memiliki watak kemandirian yang memungkinkanya untuk terus bertahan selama berabad-abad. Eksistensi pesantren dalam jangka waktu yang lama ini dimungkinkan oleh karakternya yang bisa bergerak selaras dengan perubahan social.[9]  Hal ini berhubungan suatu kaidah yang berasal dari fiqih syafi’I yang berbunyi “al muhafaazatu’ ala al qadim al- shalih wa al- akhzu bi al jadidi  al ashlah.”
Dengan demikian, pesantren memiliki daya adaftif terhadap perubahan. Hal ini bisa dipahami dengan menyadari adanya konteks keterkaitan antara pesantren dengan masyarakat.
Kajian mengenai pesantren dalam era globalisasi telah di lakukan oleh beberapa peneliti. Di antaranya adalah H.M. Muhtarom dalam buku yang berjudul Refroduksi ulama di era globalisasi. Ia melakukan penelitian dengan dua stady khasus, yakni di pesantren Raudlatul ‘ulum desa guyangan dan pesantren bustanuttolibin.
Menurut  Muhtarom, pesantren pada umumnya merupakan representasi dari pada model pendidikan dalam masyarakat tradisional. Keberlangsungan pondok pesantren kini berada di era globalisasi yang di pengaruhi oleh penciptaan-penciptaan tekhnologi dan budaya global yang cendrung mekanistik, efisien, dan bebas nilai. Globalisasi membawa pengaruh pada tekanan dan desakan yang mempengaruhi berbagai gaya hidup yang tradisional, termasuk disini adalah dunia pesantren.
Dari dua subyak penelitian yang di amati, Muhtarom melihat bahwa globalisasi menimbulkan konplik Nilai-nilai social budaya. Pengaruhnya terlihat dari tarik ulur penentuan model menejmen pesantren. Penelitian yang menggarap tema ini adalah: Abdurrahman syah dalam bukunya:  khazanah filosifis dan imflementasi kurikulum, metodologi dan tantangan pendidikan moralitas. Berbeda dengan Muhtarom yang beranjak dari stadi kasus, Abdurrahman syah mendasarkan kajianya di level teoritis. Ia menelaah kemungkinan pemberdayaan sistem pendidikan Islam di era globalisasi. Mula-mula ia menekankan pentinngnya islamisasi ilmu pengetahuan untuk meniadakan dikotomi antara ilmu Agama dan ilmu modern atau umum. Menurutnya; pendidikan Islam sudah sangat lama berada pada posisi pingiran atau peripheral, sehingga kesulitan menghadapi kenyataan perubahan masyarakat global  bergerak sangat cepat.
Ia mengusulkan suatu rekonstruksi sistem pendidikan Islam untuk menyosong era globalisasi. dalam pandanganya selama ini pendidikan Islam lebih menitik beratkan pada sisi afeksi dan kurang perduli pada perkembangan ilmu pengetahan dan tehologi dalam kontek global. Pendidikan Islam seolah menyendiri dan “asyik” dengan dunianya sendiri. Padahal menurutnya, pendidikan Islam memiliki sejumlah potensi nilai untuk menjadi counter bagi konsep pendidikan sekuler materialistik yang di bawa oleh “barat” . ironisnya, kuasa atas impormasi tehnologi lebih didomonasi oleh barat., sehingga globalisasi lebih tampil sebagai penyeragaman tata nilai dengan barat sebagai pusat (center) dan non- barat sebagai pinggiran (pheriperal).[10] Jika Muhtarom tertarik untuk mendeskripsikan proses-proses yang terjadi di lapangan atau pada tataran praksis, maka Abdurrahman syah lebih tertarik pada konsep-konsep ideal tentang bagaimana pendidikan Islam yang seharusnya. Sedangkan stadi ini lebih meliat Aspek-aspek yang mungkin diterapkan oleh pesantren dalam menggunakan teknologi impormasi dan komunikasi (TIK) Moderen. dan mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur’an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan,serta penggunaan pengalaman.[11]














BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari gambaran di atas, tentang pendidikan  Islam dan globalisasi dapat kita tarik kesimpulan bahwa:  pendidikan Agama Islam adalah: terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik. Sesuai dengan Tujuan pendidikan yang  dirumuskan oleh Ibnu Maskawaih yang bersifat menyeluruh, yakni mencakup kebahagiaan hidup Manusia dalam arti yang seluas-luasnya. sedanggkan globalisasi dapat kita simpulkan bahwa:  ilmu itu harus dicari.sesuai yang diperintahkan oleh Nabi Saw. itu adalah menuntut, mencari, bukan menerima ilmu. Dalam perspektif ini, dan karenanya dalam perspektif global sekarang ini, tanggung jawab dosen/guru adalah memotivasi, memfasilitasi dan menemani murid mencari dan menemukan ilmu itu sendiri.






DAFTAR PUSTAKA
-       Ahmad Musthofa Haroen, Asmuki, Muh.Khamdan,Tohirin, Muh. Muntahibun Nafis, Sudar. 2009, Khazanah Intelektual Pesantren, Jakarta: CV. Maloho Jaya Abadi.
-       Muhammad Taufik, 2007, Studi Interdisipliner Pemikiran Pendidikan Islam, IAIN Mataram: LENGGE Printika.
-       Ramayulis, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
-       Khairil Anwar Dan Ramli, 2010, Mengikhtiarkan Pendidikan yang Egaliter,…..: Kreasi Wacana.



[1] Murtadha Mutahhari, perspektif al-qur;an tentang manusia dan agama, terjemahan  jalaludin Rahmat , (Bandung : mizan, 1984),  h. 121-122
[2] Lihat UUSPN No. 20 Tahun 2003
3 Abdul Rahman Saleh, Tahun 2003 hal: 3
4  Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan, islam, Globalization and postmoderniti (London: Routledge, 1994), h. 1.

[5] Qs. Bani- israil/ 17:9.
[6] Konsep belajar dalam Qs. Al- alaq/ 96:1-5. Pada dasarnya dapat di  pandang sebagai model  belajar “hadap masalah” di mana printah membaca di iringi dengan arah atau objek (menurut sebagian mufasir) yang bisa di pahami sebagai penuh konsep problematis, menurut pemecahan kreatif.
[7] Everet M.Rogers,Comunikation tecknology: the New Media in Society, the Free press: Canada. 1986, hal. 10
[8] Abdurrahman Wahid, pergulatan Negara,Agama,dan kebudayaan, desantara: Jakarta,2001, hal. 133 
[9] Lebih lanjut lihat Manfred zemek,pesantren dalam perubahan social, p3m : Jakarta,1983
[10] Abdurrahmansyah, pendidikan islam.  Khazanah metodologi dan filosofis dan implementasi kurikulum , metodologi dan tantanga pendidikann moralitas, global pustaka utama : Yogyakarta, 2005.
[11] Lihat, Kurikulum 2004 Standar Kopetensi mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA dan MA, (Jakarta: Depdiknas, 2003) h.4.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar