Rabu, 27 Juni 2012

penomena CINTA


BAB I

A.Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai problem yang selalu datang  yang menunjukkan manusia sebagai mahluk yang sempurna dan memiliki fitrah yang telah di anugerahkan oleh Allah swt. Tapi seiring dengan sudah berlangsungnya kehidupan manusia di dunia ini tindak kekerasan dan kebencian selalu di pandang sebagai sesuatu yang tidak baik dan di pandang negatif.
Memang dalam sejarah kehidupan manusia tindak kekerasan dan kebencian memang sudh terjadi sebagaimana yang sudah di kisahkan di dalam Al-qur’an tentang pembunuhan yang di lakukan Qobil atas saudaranya Habil yang memulai titik hitam tentang tindak kekerasan dan kebencian.Tapi perlu kita Ketahui bahwa dengan adanya tindak kekerasan ini agama Islam Tidak mungkin akan berkembang sepesat ini.
Dengan jihad yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya demi menyebarkan agama Allah di muka bumi ini.dengan demikian tindak kebencian dan kekerasan juga memiliki sisi yang positif  walau selama ini dipandang negatif.
Di sisi lain dalam ajaran islam (khususnya pendidikan Islam) juga mengenal yang namanya cinta, karena manusia di ciptakan juga karena cintanya Allah pada mahluknya dan menjadi khalifah serta menyembah kepada-Nya, disinilah kelebihan manusia dengan mahluk ciptaan Allah lainya.

Mengenai pendidikan Islam apakah tindak kekerasan dan kebencian ini penting atau tidak dalam mendidik anak dan bagaimana makna cinta yang sesungguhnya dalm pendidikan Islam, kita akan jelaskan panjang lebar pada pembahasan  di bawah ini.

B rumusan masalah
1.apakah yang di maksud dengan tindak kekerasan       dankebencian?
2. Bagimanakah pandangan Islam tentang tindak kekekrasan dan kebencian?
3.Apa saja istilah-istilah cinta dan bagaiman pemaknaanya?
C.tujuan
1. Untuk mengetahui kedudukan tindak kekerasan dan kebencian dalam Islam.
2. Untuk mengetahi tindak kekerasan yang di anjurkan didalam Islam.
3.Untuk mengetahui makna cinta yang sesungguhnya
4.Untuk mengetahui cinta dalam Islam itu sendiri.




























BAB:II
PEMBAHASAN
1)    fenomena kebencian-kekerasan dalam pandangan islam.
Dalam agama samawi, kisah tentang pembunuhan yang di lakukan qobil atas saudaranya habil merpakan bukti bahwa tindak kekerasan-kebencian telah ada semenjak awal penciptaan manusia,lepas dari kekerasan itu lagal ataupun tidak. Adanya paradoks dalam melihat berbagai fenomena tindak kekerasan dalam budaya kontemporer menyebabkan kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Namun di sisi lain, justru dianggap sebagai obyek yang menarik untuk dipraktikkan.
Islam adalah agama yang menganjurkan hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dan melihat semua manusia itu sama. Tidak ada kelebihan seseorang terhadap yang lain kecuali kesolehan sosialnya. Dalam Islam, manusia memiliki harkat dan martabat jauh di atas mahluk lainnya. Manusia dalam persepektif Islam adalah khalifah Tuhan yang karena dianugerahi-Nya ilmu(akal) dan bekecendrungan pada kebenaran(hanif) yang bertugas untuk “bekerjasama” dengan Allah SWT dalam membangun bumi, bukan merusaknya.
Dalam QS.5:8, dijelaskan bahwa jangan sampai karena kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu membuat kita tidak berlaku      adil dalam memperlakukannya (sesama manusia).
Dalam bahasa arab kekerasan sering disebut ‘khusyunat”, dan dalam bahasa inggris disebut “violence” yang diartikan sebagai “suatu tindakan yang bersandar pada penggunaan ketegasan ekstra”.

Mengenai definisi diatas tindak kebencian dan kekerasan memang sudah ada semenjak manusia terlahir kedunia sebagai awal dari kebencian dan kekerasan yaitu kisah Qobil dan Habil. Dengan kaitannya diatas dalam pendidikan Islam tidak diperbolehkan karena merusak fitrah manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna.

Atas dasar ini pula dapat dijelaskan bahwa Islam sebagai agama yang ajarannya didasari oleh ideologi dan pandangan dunia ketuhanan terhadap Sang Pencipta alam semesta Yang Maha Esa pun tidak terlepas dari berbagai konsep tindak kekerasan, dan jihad sebagai contoh konkritnya. Atas dasar itu pula maka tolak ukur legalitas kekerasan dan kebencian dalam pandangan Islam hanya bertumpu kepada konsep tauhid dengan berbagai konsekuensinya termasuk Allah sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan hukum, termasuk menentukan hukum ijtihad.

Dalam pandangan agama samawi, tujuan manusia diciptakan hanyalah menuju ridha Allah SWT. Tidak semua ridha Allah harus melalui jalan lemah lembut, bahkan terkadang melalui jalan kekerasan seperti yang tercantum dalam konsep amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam psikologi Islam disebutkan bahwa esensi dasar manusia(fitrah) adalah suci dan yang selalu mengajak kepada kesucian serta kesempurnaan. Namun terkadang dikarenakan beberapa faktor eksternal(seperti lingkungan) akhirnya bisa menjerumuskan kepada penyimpangan.




Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindak kekerasan dan kebencian dalam pandangan Islam tidak selamanya bisa di vonis salah karena ada juga sisi baiknya misalnya, jihad yang dilakukan Nabi dan para sahabat dalam mempertahankan agama Allah. Berkaitan dengan pendidikan Islam ada tempatnya tindak kekerasan dan kebencian diberlakukan sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa “ajarlah anakmu untuk melakukan shalat dalam umur tujuh tahun dan biasakan ketika sudah menginjak umur sepuluh tahun apabila dia tidak mau maka pukullah dia”.

Ini merupakan tindak kekerasan yang bersifat mendidik dan membangun anak untuk lebih baik.


2)    Istilah-istilah cinta dan pemaknaanya
Dalam perspektif terminologi (bahasa), cinta diartikan sebagai rasa rindu, ingin, sangat suka, sangat sayang, sangat kasih dan tertarik hatinya. Dari kata cinta ini lahir pula beberapa istilah-istilah cinta yang hampir semakna.misalnya, kasih sayang, belas kasihan, kemesraan dan pemujaan.

Dalam perjalanan hidup manusia, tidak akan pernah lepas dari yang namanya cinta. Cinta akan selalu ada dalam suatu dimensi yang namanya manusia. Manusia diciptakan dengan penuh cinta dan tanpa cinta manusia tidak akan lahir. Manusia diciptakan di bumi ini untuk mengemban cinta dari Allah sebagai khalifah di muka bumi.

Cinta merupakan inti dari keberadaan manusia (the core of existence). Arti cinta dalam konteks lain seperti jatuh cinta, dilamun asmara, cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya, cinta kepada alam dan seni, cinta kepada Negara, cinta kepada sesama dan yang lebih tinggi yaitu cinta kepada Allah SWT.

Cinta adalah:  fitrah yang sifatnya abstrak sehingga perwujudanya berada dalam area metafisik (inmaterial). Sedangkan rasa suka adalah wujud rasa ketertarikan kepada hal yang bersifat materi.

Pengistilahan atau arti cinta itu tidak akan sama, akan tetapi merupakan variasi-variasi dari sekian banyak istilah. Istilah-istilah merupakan kesetaraan yang memiliki arti yang mengarah pada satu pemaknaan yang utuh. Pada akhirnya,,bagimana seseorang memberi pemaknaan pada arti cinta tergantung seberapa tinggi pemahaman dia akan pentingnya kehidupan di dunia.

Cinta yang multiperspektif akan menjadi sesuatu yang membedakan antara satu individu dengan individu yang lain saat mengolah kehidupan cinta mereka.
Selanjutnya, aktualisasi arti cinta pada setiap anak manusia mempunyai sisi unik. Universalitas cinta menghadapkan manusia pada penghambaan hakiki atas nama cinta.

Dalam perspektif peradaban Yunani, cinta di bagi dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
Ø Cinta egape, ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diwujudkan dengan komunikasi ritual(vertical/horizontal).   
Ø Cinta philia, ialah cinta kepada orang tua, keluarga, saudara, sahabat, dan sesama manusia.
Ø Cinta eros / amos, cinta antara pria dan wanita(suami-istri).
Cinta inilah yang banyak melahirkan inspirasi dalam kehidupan manusia. Karena, dalam  realita sekarang, arti cinta  direduksi hanya sebatas cinta eros / amos. Terbatasnya pemaknaan cinta justru menyeret kehidupan manusia dalam kehidupan yang sempit.

Unsur-unsur cinta lain diantaranya: kasih sayang, kemesraan, belas kasih, dan pemujaan yang seharusnya dilabuhkan pada banyak obyek (Tuhan, orang tua, saudara, dan sesama mahluk Tuhan) menjadi sesuatu yang kian sulit ditemui.

Bila seseorang sudah bisa memadukan arti cinta secara universal, maka hidup orang tersebut bisa dikatakan sudah seimbang. Tujuan hidup akan lebih tertata apabila ada skala prioritas yang harus diperjuangkan. Cinta tidak melulu menuntut hak, namun juga memuat tanggung jawab bagi para pelaku cinta sejati. tanggung jawab inilah aplikasi tertinggi yang mengkategorikan seseorang pada pemaknaan dan pemahaman yang utuh akan arti cinta.













                                 
                                 KESIMPULAN
Tindak kekerasan dan kebencian memang sudah dikenal pada awal kehidupan manusia di dunia ini dan ini terbukti dari kisah Qobil dan Habil. Dalam pandangan Islam, tindak kekerasan dan kebencian memang tidak sesuai dengan ajaran Islam di satu sisi, tetapi di sisi lain menjadi begitu penting (urgensi).

Contohnya jihad yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya yang membuktikan betapa pentingnya jihad itu. Kekerasan juga sering digunakan dalam mendidik anak agar anak tersebut menjadi lebih baik, misalnya dalam mengajarkan anak tentang shalat.

Tetapi belakangan ini tindak kekerasan sering salah diartikan, misalnya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga yang sering dijadikan ajang kekerasan yang begitu janggal.

Adapun cinta merupakan suatu fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada hambanya. Cinta adalah sesuatu yang tidak berwujud tetapi bisa dirasakan .

Cinta sangat dibutuhkan oleh manusia demi keberlangsungan hidupnya di dunia ini, karna tanpa adanya cinta keberlangsungan kehidupan manusia di dunia ini tidak akan lancar.

Dengan demikian begitu urgensinya kedudukan cinta dalam kehidupan manusia.

DAFTAR  PUSTAKA

Beuken wim, Agama sebagai sumber kekerasana. Yokyakarta : Pustaka Pelajar . 2003
Jalaluddin, psikologi agama. Jakarta : Grafindo . 2008
Ridho, Abdurrasid. “ Memasuki Makna Cinta”. Pustaka Pelajar



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar