Selasa, 26 Juni 2012

BACAAN HADITS KU


BAB I
PENDAHULUAN


A.     LATAR BELAKANG

Hadis Nabi SAW merupakan penafsiran Al-Qur’an dalam praktek atau penerapan ajaran islam secara faktual dan ideal. Demikian ini mengingat bahwa pribadi Rasulullah merupakan perwujudan dari Al-Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia,serta ajaran islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari..
Di masa Rasulullah SAW masih hidup, para sahabat mengambil hukukm-hukum Islam (syariat) dari Al-Qur’an yang mereka terima dan dijelaskan oleh Rasulullah
Dalam beberapa tempat, penjelasan-penjalasan yang diisyaratkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an hanya bersifat mujmal umum atau mutlak. Misalnya tentang perintah salat yang diungkapkan secara mujmal, tidak menerangkan bilangan rakaatnya, tidak menerangkan cara-caranya maupun syarat rukunnya.
Banyak hukum-hukum di dalam Al-Qur’an yang diantaranya sulit dipahami atau dijalankan bila tidak diperoleh keterangan (penjelasan) yang diperoleh dari hadis Nabi SAW. Oleh sebab itu, para sahabat yang tidak memahami Al-Qur’an perlu kembali kepada Rasulullah SAW untuk memperoleh penjelasan yang diperlukan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.
Lebih dari itu, ada beberapa kejadian atau peristiwa  yang tidak dijelaskan hukumnya oleh nas-nas Al-Qur’an secara terang. Dalam hal ini perlu mengetahui ketetapan Nabi SAW yanh telah diakui sebagai Rasulullah untuk menyampaikan syariat dan undang-undang kepada manusia.
Dengan demikian, maka hadis Nabi SAW berkedudukan sebagai sumber hukum islam kedua setelah Al-Qur’an.

B.     RUMUSAN MASALAH
Apakah hadis daif dapat dijadikan sebagai hujjah ?






BAB II
PEMBAHASAN



  1. KRITERIA
Hadis daif, menurut bahasa berarti hadis yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah tentang benarnya hadis itu berasal dari rasulullah.
Para ulama memberikan batasan bagi hadis daif yaitu “hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis shahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan.”

1.     Kriteria Hadis Daif
Kriteria hadis daif yaitu hadis yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadis shahih dan hadis hasan. Dengan demikian, hadis daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis shahih, juga tidak memenuhi persyaratan hadis hasan. Pada hadis daif terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Kehati-hatian dari para ahli hadis dalam menerima hadis sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadis itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadis dan menghukuminya sebagai hadis daif. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadis itu bukan suatu bukti yang pasti atas adanya kesalahan atau kedustaan dalam periwayatan hadis, seperti kedaifan hadis yang disebabkan rendahnya daya hafal rawinya atau kesalahan yang dilakukan dalam meriwayatkan suatu hadis, padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah pula dalam meriwayatkan hadis yang dimaksud, bahkan mungkin sekali ia benar. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadis yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolaknya.
Demikian pula kedaifan suatu hadis karena tidak bersambungnya sanad. Hadis yang demikian dihukumi daif karena identitas rawi yang tidak tercantum itu tidak diketahui sehingga boleh jadi ia adalah rawi yang isiqat dan boleh jadi ia adalah rawi yang daif. Seandainya ia rawi yang daif, maka boleh jadi ia melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Oleh karena itu, para muhaddisin menjadikan kemungkinan yang timbul dari suatu kemungkinan itu sebagai suatu petimbangan dan menganggapnya sebagai penghalang dapat diterimanya suatu hadis. Hal ini merupakan puncak kehati-hatian yang sistematis, kritis dan ilmiah.

  1. MACAM-MACAM HADIS DAIF
Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadis digolongkan menjadi hadis daif dikarenakan dua hal, yaitu: gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.

1. Hadis Daif karena gugurnya rawi
Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu, dua, atau beberapa rawi, yang seharusnya ada dalam satu sanad, baik pada permulaan sanad, pertengahan ataupun akhirnya.

1.         Hadis Mursal
Hadis mursal, menurut bahasa berarti hadis yang terlepas. Para ulama memberikan batasan hadis mursal adalah hadis yang gugur rawinya di akhir sanad. Yang dimaksudkan dengan rawi diakhir sanad adalah rawi pada tingkatan sahabat. Jadi, hadis mursal adalah hadis yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.
Contoh hadis mursal ini adalah :
“Rasulullah SAW bersabda, ” Antara kita dengan kaum munafik (ada batas), yaitu menghadiri jamaah Isya dan Subuh; mereka tidak sanggup menghadirinya.” (HR Malik)
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Abdurrahman, dari Harmalah, dan dari Said bin Mutsayyab, tidaklah disebutkan dalam sanad di atas.
Kebanyakan ulama memandang hadis mursal sebagai hadis daif dan tidsak diterima sebagai hujjah, tetapi sebagian kecil ulama, termasuk Abu Hanifah, Malik bin Anas, dan Ahmad bin Hanbal, dapat menerima hadis mursal menjadi hujjah bila rawinya adil.

2.     Hadis Munqati’
Menurut bahasa, hadis munqati’ berarti hadis yang terputus. Para ulama memberi batasan hadis munqati’ adalah hadis yang gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi diakhir sanadnya adalah sahabat Nabi maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabiin. Jadi, hadis munqati’ bukanlah rawi ditingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabiin.
Contoh hadis munqati’:
“Rasulullah SAW bila masuk kedalam masjid, membaca: dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatmu.” (HR. Ibnu Majah)
3.     Hadis Mudal
Menurut bahasa, hadis mudal berarti hadis yang sulit dipahami. Para ulama memberi batasan hadis mudal adalah hadis yang gugur dua orang rawinya atau lebih secara beriringan dalam sanadnya.
Contoh hadis mudal adalah hadis imam Malik hak hamba dalam kitab Al-Muwata’. Dalam kitab tersebut, Imam Malik berkata, “ Telah sampai kepadaku,dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ Budak itu harus diberi makanan dan pakaian secara baik.”
Imam Malik, dalam kitabnya itu, tidak menyebut dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Dua orang rawi yang gugur itu diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwata’. Malik meriwayatkan hadis yang sama, yaitu “ Dari Muhammad bin Ajlan, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah.” Dua rawi yang gugur secara beriringan adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya.
  1. Hadis Muallaq
Hadis muallaq menurut bahasa, berarti hadis yang tergantung. Dari segi istilah, hadis muallaq adalah hadis yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad. Juga termasuk hadis muallaq, bila semua rawinya digugurkan (tidak disebutkan).
Contoh hadis muallaq: Bukhari berkata, kata Malik, dari Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:
“ Janganlah kamu melebihkan sebagian Nabi dan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari)

  1. Hadis daif karena cacat pada rawi atau matan
Hadis yang bercacat rawi atau matannya, atau kedua-duanya digolongkan hadis daif.Banyak macam cacat yang dapat menimpa para rawi atau menimpa matan, diantaranya pendusta, pernah berdusta fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah merupakan cacat-cacat, yang masing-masing dapat menghilangkan sifat dabit rawi. Banyak keliru, banyak faham, buruk hapalan, lalu mengusahakan hapalan dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya, merupakan cacat-cacat, yang masing-masingnya menghilangkan sifat dabit pada rawi. Adapun cacat matan, misalnya terdapat sisipan di tengah-tengah lafaz hadis atau lafaz hadis itu diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dengan maksud lafaz yang sebenarnya.
Diantara hadis daif karena cacat pada rawi atau matannya adalah: hadis maudu’, hadis matruk, hadis munkar, hadis mualal, hadis mudraj, hadis maqlub, dan hadis syaz.
  1. Hadis Maudu’
Dari segi bahasa, hadis maudu’ berarti palsu atau hadis yang dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan hadis maudu’ adalah hadis yang bukan hadis Rasulullah SAW, tetapi disandarkan kepada beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja.
  1. Hadis Matruk atau Hadis Matruh
Dari segi bahasa, hadis matruk berarti yang ditinggalkan dan hadis matruh berarti yang dibuang. Para ulama memberikan batasan hadis matruk (hadis matruh) adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh pernah berdusta (baik berkenaan dengan hadis atau mengenai urusan lain), atau tertuduh pernahmengerjakan maksiat, atau lalai, atau banyak fahamnya.
  1. Hadis Munkar
Hadis munkar, dari segi bahasa, berarti hadis yang diingkari atau hadis yang tidak dikenal. Para ulama memberikan batasan hadis munkar adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah yang menyalahi (berlawanan dengan) rawi yang kuat (kepercayaan).
  1. Hadis Muallal
Muallal, dari segi bahasa, berarti yang terkena illat (penyakit atau bencana). Para ulama memberi batasan hadis muallal adalah hadis yang mengandung sebab-sebab tersembunyinya (tidak mudah untuk diketahui) yang menjatuhkan derajatnya.
  1. Hadis Mudraj
Hadis Mudraj, dari segi bahasa, berarti hadis yang dimasuki sisipan. Dari segi istilah hadis muddraj adalah hadis yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian hadis itu. Sisipan itu bisa pada sanad, bisa pada matan, dan bisa pada keduanya.
  1. Hadis Maqlug
Dari segi bahasa, hadis maqlub berarti hadis yang diputar balik. Dari segi istilah hadis maqlub adalah hadis yang terjadi pemutarbalikan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.
  1. Hadis Syaz
Dari segi bahasa, hadis syaz berarti hadis yang ganjil. Para ulama memberi batasan hadis syaz adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, tetapi hadisnya itu berlainan dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Hadis tersebut mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad, matan,atau pada keduanya.
  1. STATUS KEHUJAHAN
Cacat-cacat hadis daif berbeda-beda, baik macamnya maupun berat ringannya. Oleh karena itu, tingkatan (martabat) hadis-hadis daif tersebut juga berbeda. Dari hadis-hadis yang mengandung cacat pada rawi (sanad) atau matannya, yang paling rendah martabatnya adalah hadis maudu’, kemudian hadis matruk, hadis munkar, hadis muallal, hadis mudraj, hadis maqlub dan hadis-hadis lain. Dari hadis-hadis yang gugur rawi atau sejumlah rawinya, yang paling lemah adalah hadis muallaq (kecuali hadis-hadis shahih, yang diriwayatkan secara muallaq oleh Bukhari dalam kitab shahihnya), hadis mudal, lalu hadis munqati’, kemudian hadis mursal.
Bila suatu hadis daif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hapal dan menyampaikan dengan cara benar, maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
Pendapat pertama: hadis daif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkenaan dengan masalah halal haram, maupunkewajiban dengan syarat tidak ada hadis lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, seperti, Imam Ahmad bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainya.
Pendapat ini tentunya berkenaan dengan hadis yang tidak terlalu daif, karena hadis yang sangat daif itu ditinggalkan oleh para ulama. Disamping itu, hadis daif yang dimaksud tidak boleh bertentangan dengan hadis lain.
Pendapat kedua: dipandang bauk mengamalkan hadis daif dalam fadailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.
Al-Hafid Ibnu Hajar menjelaskan bahwa syarat mengamalkan hadis daif ada tiga, yaitu:
    1. Telah disepakati untuk diamalkan, yaitu hadis daif yang tidak terlalu daif. Karena itu tidak bisa diamalkan hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang pendusta atau dituduh dusta atau orang yang banyak salah.
    2. Hadis daif yang bersangkutan berada dibawah suatu dalil yang umum sehingga tidak dapat diamalkan hadis daif yang sama sekali tidak memiliki dalil pokok.
    3. Hadis daif yang bersangkutan diamalkan, namun tidak disertai keyakinan atas kepastian keberadaannya, untuk menghindari penyandaran kepada Nabi SAW sesuatu yang tidak beliau katakana.
Pendapat ketiga: hadis daif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailul amal maupun yang berkaitan dengan halal-haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi
Selanjutnya yang disebut hadis maudu’ (palsu) adalah pernyataan yang sesungguhnya bukanlah hadis Nabi, tetapi beberapa kalangan menyebutnya sebagai hadis Nabi. Isi hadis palsu tidaklah selalu buruk atau bertentangan dengan ketentuan umum ajaran Islam.
Sebagian ulama memasukkan hadis maudu’ (palsu) kedalam salah satu jenis hadis daif, dalam hal ini adalah jenis yang paling buruk dan sebagian ulama lagi tidak memasukkannya ke dalam jenis hadis. 
   


BAB III
PENUTUP


  1. SIMPULAN
Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hadis daif adalah hadis yang  tidak terdapat padanya salah satu dari syarat hadis shahih maupun hadis hasan. Dimana syarat dari hadis shahih itu sendiri adalah; sanadnya nyambung, perawinya adil, ingatan hapalan perawinya kuat, tidak terdapat keganjalan, dan tidak terdapat adanya cacat. Jadi hadis daif tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.
Akan tetapi hadis daif juga dapat dijadikan sebagai hujjah jika: dapat diamalkan secara mutlak, baik yang berkenaan dengan masalah halal-haram maupun kewajiban dan jika hadis daif dalam fadailul amal.

















DAFTAR PUSTAKA


Drs. H. Ahmad, muhammad & Drs. Mudzakir, muhammad.2004.Ulumul Hadis untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK.Bandung: Pustaka Setia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar